Ayat-Ayat Favorit Nahdlatul Ulama’: Analisa Pengalaman Interaksi NU dengan Al-Quran
Al-Quran tidak pernah turun dalam ruang hampa, situasi dan kondisi sosial di sekitarnya selalu mengiringinya. Hal ini berlaku untuk beberapa abad yang lalu, ketika masa penurunan atau pewahyuan al-Quran. Untuk saat ini, ketika al-Quran tidak lagi dalam masa pewahyuan, pembahasan yang paling tepat adalah aplikasi dan respon umat Islam terhadap wahyu yang tertulis tersebut. Proses interaksi antara al-Quran dan masyarakat di sekitarnya yang terjadi pada masa turunnya juga dialami pada masa pengaplikasiannya. Pada masa ini, interaksi terjadi antara al-Quran dan aplikator. Kali ini aplikator memberikan respon yang beragam terhadap al-Quran sebagai bentuk interaksi terhadapnya, salah satunya yaitu menjadikan ayat-ayat tertentu sebagai ayat favorit dalam kehidupan aplikator.
Fenomena ayat-ayat favorit ini lebih sering terjadi pada sebuah komunitas atau organisasi tertentu daripada level individual. Ini dapat kita temui salah satunya pada beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) di Indonesia. Banyak ormas di Indonesia yang menyandarkan prinsipnya pada ayat-ayat al-Quran. Sebut saja Muhammadiyah dengan slogannya yaitu surat Ali Imran [3]: 1043, LDII dengan motto-mottonya yaitu surat Ali Imran [3]: 104, Yusuf [12]: 108, al-Nahl [16]: 1254, HTI yang juga mengusung surat Ali Imran [3]: 1045, NU (yang akan dibahas berikutnya) dan yang lainnya. Bahkan terkadang ayat yang diambil itu sama, sehingga satu ayat dapat populer di dua atau tiga ormas dan bahkan lebih. Kenapa ayat tertentu itu dipilih dan apa maknanya. Respon dari pertanyaan ini yang akan menjadi bahasan dalam makalah.
Tentu tidak semua ormas ditampilkan, penulis hanya memilih satu ormas untuk diteliti yaitu Nahdlatul Ulama. Ditujukan kepada NU tidak lain karena ormas ini termasuk salah satu ormas terbesar di Indonesia, selain itu organisasi ini terkenal dengan banyak tradisinya yang dapat bertahan dari dari awal berdirinya hingga sekarang.
Banyak ayat-ayat al-Quran ditampilkan oleh NU dalam setiap kebijakannya, seperti ayat 55 surat Taha dan ayat 103 surat Ali Imran. Dua ayat ini secara jelas dinyatakan oleh NU sebagai pijakan dari beberapa simbol dalam lambangnya. Adapun seperti ayat 48-49 surat al-Maidah yang disertakan pada keputusan Muktamar XXVII tentang khittah, juga ayat 104, 110 dan 112 surat Ali Imran, ayat 114 surat al-Nisa, ayat 71 surat al-Taubah, ayat 125 surat al-Nahl, ayat 107 surat al-Anbiya yang tercantum dalam mukaddimah dasar-dasar pengembangan NU hasil keputusan muktamar yang sama dan ayat 122 surat al-Taubat yang dibaca ketika memberikan sambutan PBNU terhadap buku kumpulan keputusan bahsul masail 1926-2010 memang tidak secara jelas disebutkan mengenai keterkaitannya.
Kajian ini berangkat dari beberapa keterangan yang terdapat dalam dokumen legal NU, seperti AD/ART, keputusan muktamar dan bahsul masail, buletin ke-NU-an dan catatan legal lainnya kemudian dicari relevansi dengan penggunaannya menelusuri beberapa penjelasan para mufassir.
Last but not least, tidak ada sesuatu yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini, apalagi pembahasan ayat yang terbatas sekitar sepuluh ayat, hal itu masih sangat jauh dari kriteria representatif. Untuk itu, saran, masukan dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai perbaikan ke depan.
Ayat-Ayat al-Quran yang Populer di NU
QS. TAHA [20]: 55مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىDARI BUMI (TANAH) ITULAH KAMI MENJADIKAN KAMU DAN KEPADANYA KAMI AKAN MENGEMBALIKAN KAMU DAN DARIPADANYA KAMI AKAN MENGELUARKAN KAMU PADA KALI YANG LAIN.
Melalui ayat ini Allah untuk ke sekian kalinya menginformasikan tentang kekuasaanNya, Dia menciptakan semua manusia dari satu bahan yang sama, yaitu tanah, lalu terbentuklah tubuh manusia yang sehat dan kuat. Setelah itu mereka (manusia) pada akhirnya nanti akan mati dan dikubur di tempat yang sama, yaitu tanah dan akhirnya kembali menjadi tanah seperti ketika belum diciptakan. Kemudian masih dari bahan yang sama pula Allah akan mengeluarkan dan menghidupkan manusia kembali di kehidupan yang kedua nanti di hari kebangkitan.
Melalui ayat ini pula Allah mengingatkan manusia akan asal muasalnya. Manusia berasal dari hal yang sama dan nanti akan kembali menjadi hal yang sama pula. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya dan merasa lebih dari yang lain. Pembeda dari mereka hanyalah satu, imannya. Sebagaimana firmanNya, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Topik lain yang dibicarakan ayat ini adalah theologi tanah. Untuk manusia tanah adalah segalanya, dari tanah manusia dapat bertahan hidup, mulai dari tempat tinggal mereka yang berdiri tegak di atas tanah, makanan dan minuman yang dikonsumsi mereka tidak lain merupakan hasil dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tanah dan pakaian mereka yang digunakan untuk menutupi dan melindungi mereka juga tidak lain hasil dari tanah. Tanah selau memberi apa yang manusia butuhkan, seseorang menanam padi, tanah akan tumbuh padi. Tanah ditanami ganja, nantinya akan menghasilkan ganja. Air yang menjadi kebutuhan utama manusia juga bersumber dari tanah, hingga SDA yang tidak dapat diperbarui pun seperti barang tambang, emas, perak, batu bara dan yang lainnya dihasilkan dari tanah. Uniknya, tanah tidak hanya selalu memberi, tapi tanah juga senantiasa menerima semua perlakuan manusia, hingga ada satu hal dimana semua orang tidak mau terhadapnya, hanya tanahlah satu-satunya yang bersedia menerima, yaitu mayat (bangkai) manusia.
Sesuai dengan kandungan ayat ini, maka NU menjadikannya sebagai dasar theologi dari gambar bola dunia yang ada pada lambangnya. Bola dunia di situ bermakna bumi yang tidak lain adalah tempat manusia berasal, menjalani hidup dan akan kembali.
QS. ALI IMRAN [3]: 103وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْن قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَDAN BERPEGANGLAH KAMU SEMUANYA KEPADA TALI (AGAMA) ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU BERCERAI BERAI, DAN INGATLAH AKAN NIKMAT ALLAH KEPADAMU KETIKA KAMU DAHULU (MASA JAHILIAH) BERMUSUH MUSUHAN, MAKA ALLAH MEMPERSATUKAN HATIMU, LALU MENJADILAH KAMU KARENA NIKMAT ALLAH ORANG-ORANG YANG BERSAUDARA; DAN KAMU TELAH BERADA DITEPI JURANG NERAKA, LALU ALLAH MENYELAMATKAN KAMU DARIPADANYA. DEMIKIANLAH ALLAH MENERANGKAN AYAT-AYAT-NYA KEPADAMU, AGAR KAMU MENDAPAT PETUNJUK.
Ayat ini menjelaskan tentang fungsi agama Islam. Ada dua fungsi Islam disebutkan dalam ayat ini. Pertama, islam sebagai tali pengikat perdamaian, kerukunan dan persatuan (Dan berpeganglah…). Kedua, Islam sebagai penyelamat umat (Dan kamu telah berada di tepi ujung neraka…).
Semangat perdamaian dan persatuan diserukan ayat ini menyusul ayat sebelumnya, 100-101. Dua ayat ini bercerita tentang keadaan umat Islam yang terprovokasi oleh propaganda salah satu orang Yahudi, Shammas bin Qais al-Yahudi (ada yang mengatakan Shas), padahal pada saat itu mereka sudah berdamai di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.11 Di ayat 100-101, Allah memperingatkan orang-orang Islam untuk berhati-hati dan tidak gampang termakan oleh provokasi ahl al-kitab, dan cara untuk menepis hal ini yaitu dengan berpegang teguh pada tali Allah -tali pengikat yang menghubungkan dan mempersatukan satu sama lain- yakni Islam.
Jika ayat ini sebenarnya membicarakan fungsi agama, maka dengan ayat ini pula NU mencoba untuk menggambarkan fungsinya, sehingga ayat ini dijadikan dasar oleh NU dalam lambangnya, tepatnya pada bagian tampar yang melingkari bumi, yaitu simbol kuatnya persaudaraan.
QS. ALI IMRAN [3]: 112ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِMEREKA DILIPUTI KEHINAAN DI MANA SAJA MEREKA BERADA, KECUALI JIKA MEREKA BERPEGANG KEPADA TALI (AGAMA) ALLAH DAN TALI (PERJANJIAN) DENGAN MANUSIA
NU tidak secara jelas menyebutkan ayat ini sebagai dasar atas simbol dua simpul ikatan yang ada di bawah bola dunia dalam lambang NU, tapi melihat maknanya, yaitu melambangkan hubungan vertikal kepada Allah (habl min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (habl min al-nas) tentu tidak jauh beda dengan zahir ayat di atas. Tidak hanya itu, resepsi hermeneutis ayat ini terhadap tradisi NU juga ada dalam dasar pengembangannya seperti yang tercantum dalam mukaddimahnya.
Ayat ini sebenarnya membicarakan tentang perihal orang Yahudi yang akan selalu diliputi kenistaan, kecuali jika berpegang kepada Allah (hablu min Allah) yakni ajaran agamanNya dan tunduk pada pemerintahan Islam untuk memperoleh keamanan dan pembelaan dari manusia (habl min al-nas). Pada ayat ini istilah habl min Allah dan hablmin al-nas berarti tali itu datang dan terulur dari Allah dan manusia.
Berbeda dengan maksud awal dari ayat sebagaimana penjelasan di atas, terutama dalam memaknai dua istilah, habl min Allah dan habl min al-nas, orang-orang memahami dan menggunakan kedua istilah tersebut sebagai cerminan dari ajaran Islam. tampak dalam kasus ini NU termasuk di dalamnya. Menurut mereka, seorang muslim hendaknya menjalin hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan manusia. Meski Quraish Shihab tidak mengiyakan pemahaman tersebut dan mengatakannya kurang tepat,15 tapi semangat yang tersimpan di dalamnya bukan hal yang dapat menyebabkan pada kejelekan.
QS. Al-Maidah [5]: 48-49
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ.
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
Kedua ayat ini setidaknya mengandung empat hal. Pertama, peran al-Quran terhadap kitab-kitab Allah sebelumnya, Taurat, Injil dan Zabur, yaitu membenarkan sekaligus menguji. Kedua, setiap kitab suci tersebut berisi aturan (syariat) dan jalan (minhaj) yang berbeda, konsekuensinya, syariat umat Yahudi yang berKitab Taurat, Nasrani yang berkitab suci Injil dan Islam yang berKitab suci al-Quran itu tidak sama. Ketiga, perbedaan yang ada itu tiada lain untuk menguji pemahaman kita atas ayat-ayat Allah. Selain itu, perbedaan yang ada hendaknya dijadikan ajang untuk berbuat kebaikan, bukan untuk saling bermusuhan. Keempat, perintah Allah untuk senantiasa berpegang teguh pada aturan-aturan yang diturnkan Allah yakni al-Quran.
Kedua ayat ini diadopsi oleh NU pada Keputusan Muktamar XXVII, 8-12 Desember 1984 ketika membahas khittah dan organisasi, tepatnya pada bagian awal sebelum masuk mukaddimah. Dan tampaknya di kemudian hari ayat ini dikokohkan oleh NU sebagai motto khittah. Kedua ayat di atas menginspirasi NU yang pada saat itu sedang mengalami kebingungan mencari genre organisasi, sehingga kemudian disepakati bahwa NU kembali ke khittah 1926 yaitu sebagai Jamiyyah Diniyyah Islamiyah. Langkah khittah ini ditempuh untuk mengkritisi dan mengevaluasi apa yang sudah NU lakukan selama itu. Dengan menegaskan kembali posisi dan wilayah kerja NU di Indonesia, hal ini tidak berarti mengurangi perannya dalam membangun dan mengembangkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Alllah SWT, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tentram, adil dan sejahtera, karena NU mempunyai jalan dan aturan sendiri untuk mewujudkan cita-cita dan tujuannya tersebut.
Sekilas memang seperti tidak ada kaitan antara khittah dan kedua ayat tersebut. namun ketika ditelusuri lebih lanjut dengan membaca pengertian khittah, maka dapat dilihat munasabah antara keduanya. Berikut pengertian khittah NU hasil Muktamar XXVII:
- Khittah NU adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan
- Landasan tersebut adalah faham Ahlussunnah wal jamaah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia, meliputi dasar-dasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan.
- Khittah NU juga digali dari intisari perjalanan sejarah khidmahnya dari masa ke masa.
QS. Al-Nahl [16]: 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
dijadikan mukaddimah dalam Keputusan Muktamar XXVII tahun 1984 tentang Program Dasar Pengembangan NU (1984-1989). Tentu ini tidak hanya sekadar memindah ayat tanpa alasan. Diyakini ada makna dari ayat-ayat tersebut yang kebetulan berkaitan dengan semangat program pengembangan NU, atau bisa juga ayat ini oleh NU memang dari awal dijadikan pedoman dan acuan penyusunan program dasar pengembangan NU.
Sebut saja ayat di atas, Al-Razi mengatakan bahwa ayat ini merupakan kaidah, prinsip-prinsip dan metode berdakwah yaitu, hikmah, mauidah hasanah dan mujadalah allati ahsan (perdebatan yang argumentatif).20 Ketiga cara tersebut merupakan tuntunan Rasulullah SAW dalam berdakwah. Pertama, dakwah bi al-hikmah yaitu dengan memperhatikan dan menyesuaikan dengan mukhatab dan mustaminya, sekiranya pesan yang didakwahkan itu tidak memberatkan dan menyulitkan mereka. Kedua, bi al-mauiz}ah al-h}asanah, tutur kata yang halus akan lebih mudah masuk ke hati. Ketiga, perdebatan yang argumentatif sekiranya membuat lawan bicara itu menerimanya. Perdebatan ini sebatas menyampaikan kebenaran, tidak untuk orientasi menang atau kalah. Terlepas dari itu, satu hal yang perlu diingat, khususnya untuk para dai bahwa satu-satunya tujuan berdakwah itu menyeru kepada Allah, bukan seruan untuk mengikuti dai atau kelompok dan kaumnya.
Nampaknya salah satu model dakwah yang disebut di atas, ditempuh oleh NU kemudian diwujudkan beberapa bidang yang dibentuk sebagai upaya pengembangan program: syuriah, pendidikan (maarif), dakwah dan penerbitan, sosial (mubarrat), perekonomian, pertanian dan nelayan, tenaga kerja, kebudayaan, kewanitaan, kepemudaan, kaderisasi, organisasi dan pembentukan kepribadian.22 Bidang-bidang ini yang pada saat sekarang dikenal dengan LP Maarif NU (menangani pendidikan), LDNU (yang menangani bidang dakwah), LSM (menangani bidang sosial) dan lainnya.
QS. ALI IMRAN [3]: 104, 110, AL-NISA [4]: 114, AL-TAUBAH [9]: 71وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَDAN HENDAKLAH ADA DI ANTARA KAMU SEGOLONGAN UMAT YANG MENYERU KEPADA KEBAJIKAN, MENYURUH KEPADA YANG MAKRUF DAN MENCEGAH DARI YANG MUNKAR; MEREKALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG.كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَKAMU ADALAH UMAT YANG TERBAIK YANG DILAHIRKAN UNTUK MANUSIA, MENYURUH KEPADA YANG MAKRUF, DAN MENCEGAH DARI YANG MUNGKAR, DAN BERIMAN KEPADA ALLAH. SEKIRANYA AHLI KITAB BERIMAN, TENTULAH ITU LEBIH BAIK BAGI MEREKA; DI ANTARA MEREKA ADA YANG BERIMAN, DAN KEBANYAKAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG FASIK.
لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Salah satu persamaan dari ayat-ayat ini yaitu penyertaan amr maruf nahimunkar. Tidak hanya itu, dasar-dasar sikap kemasyarakatan NU pun juga mencantumkan amr maruf nahimunkar yang berarti selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
Al-Razi membedakan posisi amr maruf nahimunkar dalam keempat ayat ini:
- Pada Ali Imran ayat 104 dan 110, amr maruf nahi munkar diposisikan sebagai kewajiban bagi umat Islam yang harus dilaksanakan, baik dengan tangan, lisan maupun hatinya. Ada dua kewajiban lain yang disebut dalam ayat ini, yaitu mengajak pada kebaikan (ayat 104) dan beriman kepada Allah (ayat 110)
- Pada al-Nisa ayat 114, amr maruf dipahami sebagai satu dari tiga perbuatan baik (perbuatan yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat) yang diinformasikan dalam ayat ini. pertama yaitu sadaqah (kebaikan dalam hal materi/ jasmaniyah). Kedua, maruf (kebaikan ruhaniyah seperti menyempurnakan akal dengan ilmu dan menyempurnakan amal dengan perbuatan yang baik. Atau dengan kata lain amr maruf). Ketiga, berdamai di antara manusia (sebagai bentuk menolak kemudaratan).
- Pada al-Taubah ayat 71, amr maruf nahi munkar merupakan dua dari lima sifat orang mukmin yang membedakannya dengan orang munafik. Tiga sifat yang lain yaitu mendirkan shalat, membayar zakat dan patuh kepada Allah dan RasulNya.
QS. Al-Nahl [16]: 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat ini dan ayat-ayat pada poin selanjutnya (kecuali no. 8) dijadikan mukaddimah dalam Keputusan Muktamar XXVII tahun 1984 tentang Program Dasar Pengembangan NU (1984-1989). Tentu ini tidak hanya sekadar memindah ayat tanpa alasan. Diyakini ada makna dari ayat-ayat tersebut yang kebetulan berkaitan dengan semangat program pengembangan NU, atau bisa juga ayat ini oleh NU memang dari awal dijadikan pedoman dan acuan penyusunan program dasar pengembangan NU.
Sebut saja ayat di atas, Al-Razi mengatakan bahwa ayat ini merupakan kaidah, prinsip-prinsip dan metode berdakwah yaitu, hikmah, mauidah hasanah dan mujadalah allati ahsan (perdebatan yang argumentatif).20 Ketiga cara tersebut merupakan tuntunan Rasulullah SAW dalam berdakwah. Pertama, dakwah bi al-hikmah yaitu dengan memperhatikan dan menyesuaikan dengan mukhatab dan mustaminya, sekiranya pesan yang didakwahkan itu tidak memberatkan dan menyulitkan mereka. Kedua, bi al-mauizah al-hasanah, tutur kata yang halus akan lebih mudah masuk ke hati. Ketiga, perdebatan yang argumentatif sekiranya membuat lawan bicara itu menerimanya. Perdebatan ini sebatas menyampaikan kebenaran, tidak untuk orientasi menang atau kalah. Terlepas dari itu, satu hal yang perlu diingat, khususnya untuk para dai bahwa satu-satunya tujuan berdakwah itu menyeru kepada Allah, bukan seruan untuk mengikuti dai atau kelompok dan kaumnya.

Nampaknya salah satu model dakwah yang disebut di atas, ditempuh oleh NU kemudian diwujudkan beberapa bidang yang dibentuk sebagai upaya pengembangan program: syuriah, pendidikan (maarif), dakwah dan penerbitan, sosial (mubarrat), perekonomian, pertanian dan nelayan, tenaga kerja, kebudayaan, kewanitaan, kepemudaan, kaderisasi, organisasi dan pembentukan kepribadian.22 Bidang-bidang ini yang pada saat sekarang dikenal dengan LP Maarif NU (menangani pendidikan), LDNU (yang menangani bidang dakwah), LSM (menangani bidang sosial) dan lainnya.
QS. Ali Imran [3]: 104, 110, Al-Nisa [4]: 114, al-Taubah [9]: 71
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Salah satu persamaan dari ayat-ayat ini yaitu penyertaan amr maruf nahi munkar. Tidak hanya itu, dasar-dasar sikap kemasyarakatan NU pun juga mencantumkan amr maruf nahi munkar yang berarti selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
Al-Razi membedakan posisi amr maruf nahi munkar dalam keempat ayat ini:
- Pada Ali Imran ayat 104 dan 110, amr maruf nahi munkar diposisikan sebagai kewajiban bagi umat Islam yang harus dilaksanakan, baik dengan tangan, lisan maupun hatinya. Ada dua kewajiban lain yang disebut dalam ayat ini, yaitu mengajak pada kebaikan (ayat 104) dan beriman kepada Allah (ayat 110)
- Pada al-Nisa ayat 114, amr maru>f dipahami sebagai satu dari tiga perbuatan baik (perbuatan yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat) yang diinformasikan dalam ayat ini. pertama yaitu sadaqah (kebaikan dalam hal materi/ jasmaniyah). Kedua, maruf (kebaikan ruhaniyah seperti menyempurnakan akal dengan ilmu dan menyempurnakan amal dengan perbuatan yang baik. Atau dengan kata lain amr maruf). Ketiga, berdamai di antara manusia (sebagai bentuk menolak kemudaratan).
- Pada al-Taubah ayat 71, amr maruf nahi munkar merupakan dua dari lima sifat orang mukmin yang membedakannya dengan orang munafik. Tiga sifat yang lain yaitu mendirkan shalat, membayar zakat dan patuh kepada Allah dan RasulNya.
Oleh karena itu, sangat tepat jika ayat ini digunakan sebagai dasar dari sikap kemasyarakatan NU, dengan harapan warga Nahdliyin dapat mengimplementasikan amr maruf nahi munkar dalam semua kedudukannya.
QS. AL-ANBIYA [21]: 107وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَDAN TIADALAH KAMI MENGUTUS KAMU, MELAINKAN UNTUK (MENJADI) RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM.
Al-Suyuti mengetengahkan beberapa hadis untuk memperjelas makna ayat ini.
عن أبي أمامة رضي الله عنه قال. قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: إنّ الله بعثني رحمة للعالمين، وهدى للمتّقين. (أخرجه أبو نعيم فى الدّلائل)DARI ABI UMAMAH RA. BERKATA, RASULULLAH SAW BERSABDA SESUNGGUHNYA ALLAH MENGUTUSKU SEBAGAI RAHMAT BAGI SELURUH ALAM DAN PETUNJUK BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA
Hadis lain yang semakin memperjelas makna dan deskripsi rahmat li al-alamin,
عن عكرمة رضي الله عنه قيل يا رسول الله، ألا تلعن قريشا بما أتوا اليك؟ فقال: لم أبعث لعانا أنّما بعثت رحمة، يقول وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
(أخرجه عبد بن حميد)
(أخرجه عبد بن حميد)
Dari Ikrimah RA. Rasulullah ditanya, apakah kamu tidak melaknat orang-orang Qurais atas apa yang telah mereka lakukan padamu?. Nabi menjawab aku tidak diutus sebagai laknat, melainkan diutus sebagai rahmat, kemudian Nabi membaca ayat wa ma arsalnaka….
Sudah jelas dalam rangka apa Nabi Muhammad diutus yakni rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, sebagaimana perihal diutusnya Nabi Muhammad tersebut, maka demikian pula tujuan didirikannya NU beserta bidang-bidang atau lembaga-lembaganya, yaitu sebagai rahmat bagi Indonesia.
QS. Al-Taubah [9]: 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Ibn Abbas seperti dikutip oleh al-Razi mengatakan bahwa ayat ini menceritakan perihal umat Islam yang semuanya pergi ke medan perang dan meninggalkan Nabi sendirian di Madinah. Berdasar kisah tersebut, maka ayat ini memerintah umat Islam untuk tidak semuanya pergi berperang, hendaknya ada yang menyisakan diri di belakang bersama Rasulullah, karena masa-masa itu adalah masa perjuangan (jihad) berperang dan masa berlangsungnya pembentukan syariat dengan turunnya wahyu. Jadi, orang-orang yang tidak berangkat berjihad ke medan perang ditugaskan untuk belajar mengenai syariat itu yang nantinya akan diajarkan pada yang lain sepulangnya berperang, sehingga dua hal ini bisa didapati oleh umat Islam dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa jihad itu tidak hanya dengan berperang, tetapi juga dengan tafaqquh fi al-di>n (memperdalam pengetahuan dan pemahaman tentang agama)
Demikian jika pemahaman ayat ini berdasar pada kekhususan sebab dan keadaan turunnya. Namun jika diambil isyarat keumuman lafadnya, ayat ini menyatakan bahwa dalam setiap kelompok harus ada satu bagian atau bidang yang berkonsentrasi memperdalam pemahaman dan pengetahuan mereka terhadap agama. Tampaknya, isyarat ini yang kemudian dibawa oleh KH. Said Aqil Siradj ketika memberikan sambutan atas nama PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dalam penyusunan hasil-hasil keputusan Bahsul Masail di setiap Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama tahun 1926-2010.
NU —meski bukan satu-satunya Ormas yang melakukannya- sering sekali menyertakan ayat-ayat al-Quran dalam tiap tradisinya. Sekilas terlihat hal itu merupakan fenomena yang biasa saja mengingat elastisitas ayat-ayat al-Quran yang bisa dimanfaatkan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Namun jika dilihat dan ditelusuri lebih dalam dengan melihat penafsiran para ulama, ternyata ada keterkaitan antara pemilihan ayat dengan tradisi yang disandarkan padanya, baik secara langsung dijelaskan oleh NU, seperti kasus beberapa simbol yang ada pada lambang maupun yang tidak dijelaskan langsung seperti kasus yang lainnya.
Terlepas dari itu, ada banyak hal yang dicoba ditunjukkan oleh fenomena ini. Pertama, al-Quran dalam keadaan seperti ini berhasil memperlihatkan sisi kemukjizatannya. Al-Quran mengandung banyak ide yang bisa diambil dan dikembangkan oleh manusia dalam hal apapun, termasuk pengembangan suatu ormas. Kedua, al-Quran merupakan cara yang paling ampuh untuk meyakinkan lawan bicara, karena sifatnya yang agung. Ketiga, Sesuatu akan terlihat lebih religius ketika disandingkan dengan al-Quran, dan ini biasanya tidak terlalu memperhatikan kandungan suatu ayat, asal terlihat mirip dengan z}ahir al-ayat sudah dapat dikatakan sama.
Komentar
Posting Komentar