Apa status " Akhi "

Gambar terkait
Entah ini menjadi takdir Tuhan atau sebuah ujian, yang jelas benakku tak sampai tuk memperdebatkannya. Sebulan yang lalu orang tua memanggilku untuk berbicara serius, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya, wajah mereka terlihat lebih tegang dari biasanya membuatku bingung sekaligus penasaran.  Mencoba untuk mencairkan suasana aku lantas bertanya
“ ABIY, UMMIY ADA APA, TUMBEN NGAJAK BICARANYA GINI ?” TANYAKU SEDIKIT MERAJUK.
“NAK KAMI SUDAH MEMUTUSKAN KAU AKAN MENIKAH DENGAN ANAK TEMAN KAMI, INSYA ALLAH DIA SHOLEH UNTUKMU “. JAWAB ABIY MANTAP.
Deg..   jawaban yang tak pernah terpikirkan sedikitpun olehku. “Allah bagaimana mungkin ini yang Engkau persiapkan untukku?”, gumamku dalam hati. Rasanya berat kerongkongan ini mau mengeluarkan suara.
Tapi biy ,  miy, apa tidak sebaiknya  mengenal terlebih dahulu?
Anakku, kami sangat mengenal orang tuanya dan beliau juga menginginkan segera ikatan kalian, bisakah kau memenuhi keinginan kami? ” . Kali ini ummiy yang menimpali
Tanpa berani memandang wajah mereka akupun menjawab ” Enggeh “

*******

Dua minggu setelah hari itu kami menikah, dan yang membuatku waswas adalah calonku, maukah ia menerimaku? Mungkin pertanyaan itu akan beranak pinak, entah apapun itu yang jelas aku seperti dalam mimipi.
Selesai akad orang tuaku mencium keningku diikuti tangisannya dan berpesan “Jadilah  yang shalehah untuk suamimu”!. “Enggeh”.. jawabku disela tangisku.
Ternyata suamiku langsung membawaku ke rumah pribadinya, dan mungkin rumah pribadi memang menjadi pilihan yang tepat untuk kami yang belum mengenal satu sama lain.
Seminggu berlalu tak pernah ada perbincangan serius antara kami dan dia pun tak pernah menyuruhku dalam hal apapun, mungkin dia lebih nyaman dengan pembantu yang melakukannya, ya di rumah ini ada pembantu yang menjadikanku lebih santai dari seorang isteri pada umumnya.
Aku ataupun dia sama sama bertingkah layaknya orang asing, dia pergi di pagi hari dan pulang saat larut malam, dan itupun aku sudah tidur. Yang kutahu dia bekerja di salah satu perusahaan (media) Koran Warta Kota, selebihnya aku tak pernah mempertanyakan.


Catatan terbaikku untuknya ada di hari minggu kemarin, dia seharian penuh ada di rumah, mungkin libur kantor atau meliburkan diri entahlah,  yang jelas setiap berkumandang adzan dia mengajakku untuk shalat berjamaah, jadinya lima waktu hari itu aku berjamaah dengannya, dan entah mengapa itu menjadi hari yang paling menyenangkan rasanya, seolah aku damai dan tak pernah merasa kecewa bersamanya, hal sederhana yang memang aku mimpikan ketika berumah tangga. Hari itu ya.. mungkin aku memujinya dan dalam doaku tak kupungkiri semoga rasa itu selalu ada, aku harap bukan hanya aku yang merasakannya tapi ia pun juga.
Hari ini dia bekerja seperti biasanya,  seolah olah kami tak saling membutuhkan, tak pernah sekalipun kami saling kontak lewat hp saat di luar, padahal kami punya nomor hp masing-masing, entah gengsi, canggung, malu atau mungkin memang di antara kita masih merasa agak asing?.
Tapi entah mengapa hari ini rasanya aku ingin mempertanyakan keberadaanku di rumahnya, bukankah seorang suami seharusnya lebih peka?. Oke, well… mungkin kami memang tidak mengenal sebelumnya, tapi masak ia sih dia sebagai cowok tidak bisa mencairkan suasana atau sekedar basa-basi A sampai Z terserahlah, setidaknya ia memandangku sebagai isterinya.
Dari pagi hingga sekarang pikiranku tak tenang,
Kalau dia menganggapku istri kenapa bisa ia sedemikian dinginnya padaku?
KUAMBIL HPKU DAN SEGERA KUKIRIM PESAN SINGKAT UNTUKNYA “APA STATUSKU AKHIY?” , SINGKAT MEMANG TAPI MUNGKIN KATA ITU CUKUP UNTUK MELUAPKAN PERTANYAANKU SELAMA INI.
Harap cemas aku menunggu jawaban, kulihat pesan yang kukirim, ternyata sudah terkirim dari tadi tapi mengapa belum juga ada balasan, apakah aku salah?. Muncul rasa penyesalanku karena telah berkirim pesan yang mungkin menyudutkannya. Belum selesai resahku hp berdering dan itu dia jawaban yang mungkin aku tunggu, buru-buru ku buka
“UKHTIY, AKU TAK PERNAH MEMANDANG BOLA MATA UKHTIY KARENA TAKUT UKHTIY TAK SUDI.
Aku tak pernah menyentuh ukhtiy karena takut ukhtiy tak suka.
Aku tak pernah bicara dengan ukhtiy karena kukira ukhtiy belum siap menerimaku.
Aku tak pernah berkirim kabar ketika di luar karena kukira ukhtiy akan terganggu.
Aku pulang larut malam karena kukira ukhtiy lebih tenang terlelap tanpa diriku.
Dan yang pasti aku bisa puas memandangi wajah ukhtiy tanpa malu he he
Ingin aku mendengar suara ukhtiy, bermanjaan, bisa mengecup kening ukhtiy tapi ana terlalu takut menyakiti ukhtiy,
Andai ukhtiy tau, akhiylah yang meminta abah untuk mengkhitbah ukhtiy, tapi ana rasa takut ukhtiy tidak suka sehingga ana minta abah merahasiakannya,
KETAHUILAH UKHTIY,…. UKHTIY DALAM IKATANKU, UKHTIY TANGGUNG JAWABKU DUNIA DAN AKHIRAT, ANA BERHARAP UKHTIY BISA MENERIMA AKHIY MENJADI IMAM UKHTIY. “
Airmataku mengalir tanpa ada komando. “Allah…. apalagi yang aku impikan sekarang, kau kirimkan pendamping yang bisa menerimaku, kau jawab semua doaku, terima kasih Tuhan..” Batinku bergemuruh. Detak jantungku semakin cepat, antara senang dan terharu. Segera kubalas: 




“Pantesan akhiy balasnya lama, ternyata ngarang puisi” jawabku dengan canda dan emot senyum. Di bawahnya aku tulis juga:
Akhiy, lafadz Qabiltu yang akhiy ikrarkan di depan waliku telah membeli hati dan cinta ukhtiy, apalagi yang akhiy takutkan?. Tiada anugerah terindah untuk seorang istri melebihi suami soleh dan itu ukhtiy temukan dalam diri akhiy.” Segera kutekan tombol Send untuk mengirimnya.
Tak lama setelah itu ada balasan “Tunggu akhiy ya ukhtiy, jangan tidur dulu, akhiy rindui ukhtiy walau nyatanya kita seatap dan tiap hari bertemu”.  
Malam itu aku sudah bertekad untuk menunggunya pulang, tak ingin lagi kulepaskan surga di depan mataku.  
Belum sembuh mataku yang sembab terharu bel rumahpun berbunyi, kubuka pintu dan ternyata ternyata ya dia suamiku dengan setangkai bunga indah di tangannya, dengan mata yang penuh cinta dan senyum di bibirnya seraya berucap “ Afwan ukhtiy, mungkin terlambat, ana bukanlah orang yang romantis tapi semoga dengan bunga ini hati ukhtiy selalu terbuka buat akhiy”.
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, mataku sudah berkaca-kaca, segara kuambil bunganya dan kupeluk suamiku erat-erat, kubisikkan di telinganya “ukhtiy, titipkan hati ana untuk akhiy, dijaga ya”.
Terima kasih Yâ Allah, rencanamu begitu indah, tak henti-hentinya hati ini memujiMu Yaa Rabb…  kutitipkan hati kami untuk Engkau Sang Pemilk Sejati, jadikan kami keluarga yang Engkau ridlai.. amiin….. فباي الاء ربكما تكذبان


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Makna Bakaikaji بكيكج

Ayat-Ayat Favorit Nahdlatul Ulama’: Analisa Pengalaman Interaksi NU dengan Al-Quran